Perhitungan Produktivitas Pekerjaan Struktur (Pekerjaan Bekisting)

Produktivitas dalam dunia konstruksi merupakan hal yang sangat berguna dalam perencanaan schedule dan estimasi biaya. Pengaruh yang ditimbulkan ketika seorang engineer melakukan kesalahan dalam perencanaan schedule akan menimbulkan efek keterlambatan dan kerugian dalam hal pelaksanaan. Adapun beberapa pekerjaan dalam konstruksi yang membutuhkan tingginya tingkat produktivitas seorang tenaga kerja untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Terutama dalam pekerjaan struktur yang mana pengaruh dari produktivitas sangat mempengaruhi lama atau cepatnya pekerjaan struktur selesai.

Produktivitas pekerjaan struktur sendiri tergantung daripada penggunaan metode pelaksanaannya. Penggunaan metode yang tepat dapat memberikan pengaruh dalam produktivitas, hal ini didasarkan saat terjadinya perubahan metode yang bertujuan untuk mempercepat pekerjaan tanpa mengurangi kekuatan dari segi struktural. Semakin cepatnya proses pelaksanaan maka akan semakin tinggi produktivitas yang terjadi. Perubahan metode pelaksanaan dapat berupa merubah dari segi hal desain struktur atau merubah dari segi pelaksanaan.

Pekerjaan struktur dalam hal ini dapat dibagi menjadi beberapa komponen yaitu : pekerjaan beton, pekerjaan besi beton (baja tulangan), pekerjaan bekisting dan pekerjaan baja. Namun, dalam suatu proyek pekerjaan struktur tidak selalu terdapat empat pekerjaan tersebut, melainkan tergantung dari penggunaan struktural dari gedung tersebut. Nilai produktivitas dari salah satu komponen pun tidak bisa di ambil mutlak sebagai angka yang pasti untuk dapat digunakan secara terus, menerus. Hal ini disebabkan karena dalam penentuan nilai produktivitas suatu pekerjaan dalam pekerjaan struktur memiliki beberapa variabel, yakni ketika kita berbicara pekerjaan bekisting. Produktivitas pekerjaan bekisting sangat terpengaruhi oleh penggunaan metodenya. Sebagai contoh pekerjaan bekisting yang dikerjakan secara knvensional akan memiliki nilai produktivitasnya dengan pekerjaan bekisting yang dikerjakan dengan menggunakan metode full system pada perancahnya (sistem bekisting yang menggunakan panel-panel sehingga proses pelaksanaan hanya seperti melakukan pemasangan yang sederhana) atau menggunakan metode pelaksanaan pracetak.

Penghitungan produktivitas bekisting sendiri dapat dihitung dengan cara melakukan observasi pada beberapa proyek yang kemudian mengambil perbandingan antara nilai produktivitasnya dan rasio bekisting yang ada dalam luasan 1 m2. Kenapa harus membandingkann nilai produktivitas dengan rasio beksitingnya? secara logika, jika nilai rasio bekisting 2.31 m2 maka dalam setiap luasan 1 m2 terdapat 2,31 m2 pekerjaan bekisting. Sehingga, jika semakin besar rasio bekisting yang ada maka akan memperkecil nilai produktivitas yang terjadi.

Penghitungan produktivitas dapat dihitung dengan cara melakukan kontrol atau monitor prestasi phisik yang telah dilaksanakan dan jumlah tenaga kerja. Nilai produktivitas dapat diperoleh dengan rumus:

Produktivitas = (Volume Pekerjaan yang telah dikerjakan) / (Jumlah pekerjaa rata-rata)

Sebagai contoh yaitu penghitungan nilai produktivitas pekerjaan bekisting yang dimonitor setiap 1 minggu :

Dari data di atas dapat diperoleh produktivitas rata pekerjaan bekisting dalam satu minggu yaitu 30,22 m2 atau dalam artian produktivitas pekerjaan bekisting dalam satu hari yaitu 4,18 m2. Namun sesuai dengan keterangan sebelumnya di atasyaitu nilai di atas tidak bisa dijadikan sebagai patokan utama dalam penentuan produktivitas pekerjaan bekiting, harus ada sampel dari beberapa proyek yang memiliki rasio bekisting yang berbeda namun menggunakan metode pelaksanaan yang sama. Sehingga kita dapat menentukan nilai produktivitas pekerjaan bekisting secara detail.

Previous
Next Post »