Coba Lihat Sekeliling Kita (part. 4 - Muda Foya Foya, Tua Kaya Raya)

Muda foya-foya, tua kaya raya. Slogan ini lah yang sering saya ibaratkan ketika bertemu dengan sesorang yang inginnya cepat kaya, tetapi dari usaha yang dilakukan tidak sesuai dengan usaha dan resiko yang ingin dilakukan. Entah hal tersebut sudah menjadi budaya atau hanya kebiasaan yang dimiliki oleh beberapa masyarakat di indonesia tercinta ini.

Kalau kita mengkaji secara seksama tentang kalimat tersebut memiliki arti yang sangat mendalam. Maksud dari muda foya-foya tersebut bukan berarti kita harus selalu foya-foya dalam artian kita menghabiskan keuangan/usaha yang kita miliki untuk sesuatu yang tidak bermanfaat. Melainkan kita harus foya-foya dalam hal menghabiskan segala usaha kita di masa muda kita untuk bekerja keras dengan selalu beribadah dan bekerja untuk kehidupan tua kelak kita.

Selepas dari usaha keras kita dimasa muda yang kemudian dimasa tua kita sudah dapat merasakan hasil jerih payah kita selama muda. Artian kaya raya disini bukan berarti kita harus bergelimang harta dan segala aset dunia. Melainkan kaya akan kebahagian kita terhadap anak kita yang sudah kita besarkan dengan susah payah untuk dapat meneruskan cita-cita kembali. Anaklah satu-satunya letak kebanggan orang tua. Melalui anak lah orang tua dapat beristirahat dari targetnya atau mimpi-mimpinya semasa muda dahulu. Masa dimana merekea harus bekerja keras siang-malam untuk dapat menghidupi anak-istrinya demi citanya yang ingin supaya para anak mereka dapat melanjutkan cita mereka.

Namun, tersebut sering disalah artikan. Masa muda banyak dihabiskan untuk foya-foya terhadap perihal yang tidak bermanfaat. Kemudian menginginkan masa tuanya memiliki kekayaan terhadap harta
Entah hal tersebut memang budaya atau kebiasaan yang sudah sedari awal masyaakat yang dididik Belanda untuk memikirkan masalah memgenai perut masing-masing

Contoh semisal para pengamen yang setiap hari mengamen dengan menarik recehan dari masyarakat yang merasa simpatik terhadapnya. Dana yang diperoleh dari sang pmberi malah tidak digunakan untuk hal yang baik dan bermanfaat. Melainkan, digunakan untuk memenuhi kebutuhan non pokok. Ini salah satu sikap ingin berusaha yang sekecil mungkin dan ingin mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Entah sikap ini hanya kebiasaan sudah mencakupjadi kebudayaan? Mari intropeksi diri.
Previous
Next Post »