Idealisme Vs Realisme

Idealisme dan realisme, itulah yang sering bergeming saat memasuki masa-masa adaptasi dalam bekerja. Tidak sedikit juga seorang individu bertemu dengan hal yang berbau duniawi kemuda ian merubah arahnya yang awalnya seorang yang idealis dalam berpikir berubah menjadi orang yang realis. 

Mungkin saat kuliah dahulu masih bisa beradu argumen dalam hal idealisasi dan pemikiran, namun saat memasuki masa-masa bekerja, bertemu dengan orang-orang yang lebih senior yang notabennya sudah makan manis dan asinnya kehidupan di dunia dan memiliki pola mindset yang lebih cenderung kepada realisme. Bentrokan dengan kebutuhan hidup dalam menghidupi kerabat-kerabatnya dan bahkan lebih menjurus kepada pencarian surga duniawi-tidak sedikit yang menentang akan pemikiran idealis. Memang tidak dipungkiri bahwa hidup itu tidak ada yang gratis, namun tetap saja segala sesuatu di dunia ini ada beberapa hal yang tidak dapat dibeli dengan uang.

Semua itu kembali lagi ketika kita dihadapkan dengan kebutuhan hidup di dunia yang harus ditutupi oleh yang namanya "UANG". Anak remaja wanita yang berani menjual kehormatannya demi mencari kesenangan duniawi, para penjual barang haram "narkotika" dan para penikmat uang dari hasil penjualan minuman keras. 

Hidup memang seharusnya berlandaskan dengan ajaran dari agama. Tidak sedikit orang-orang pun menampilkan penampilan yang paham akan agama, namun dalam pelaksanaannya  masih menjalankan hal-hal yang sangat bertentangan dengan agama. Semua itu kembali lagi dengan kenyataan bahwa kehidupan di dunia ini harus ditutupi dengan yang namanya "UANG".

Sekarang pertanyaan yang timbul dari pemikiran saya, kapan sistem di negara tercinta kita ini bisa terimplementasikan dengan baik dan benar ketika masih ada beberapa oknum/personal yang memiliki pemikiran realism dalam artian menggampangkan semua urusan dengan "UANG".
Previous
Next Post »