Coba Lihat Sekeliling Kita (Part.2) - Jakarta

"Jakarta ohh jakarta!", mungkin itu kalimat-kalimat beberapa orang yang melihat akan kemegahan dari kota Jakarta. Jakarta sendiri merupakan ibukota dari Negeri tercinta dan sebagai pusat informasi di NKRI.

Sebagai pusat dari tata negara yang luas ini, Jakarta dapat dikatakan kota yang masih belum tertata dengan baik. Bukanlah suatu penyelesaian yang baik untuk mengatasi kemacetan pada Jakarta dengan melakukan pembukaan lahan baru untuk kendaraan pribadi. Penumpukan kendaraan di jalan bukanlah hal yang patut dibanggakan. Pembukaan lahan untuk jalan kendaraan pribadi justru akan meningkatkan daya beli masyarakat terhadap kendaraan pribadi dan justru dengan menjalankan hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah. Solusi mengatasi kemacetan bukanlah dengan hal tersebut, melainkan dengan cara mengalihkan para pengguna kendaraan bermotor pribadi menuju kepada kendaraan massal dan kendaraan alternatif.

Namun, di Jakarta sendiri masih kurang dalam hal akses untuk kendaraan alternatif (red: sepeda) dan akses untuk pejalan kaki. Padahal yang seharusnya digembor-gemborkan adalah dengan menambahkan lagi untuk fasilitas-fasilitas akses pejalan kaki dan kendaraan alternatif, karena tanpa adanya keterdesakan dari masyarakat untuk sadar dalam meninggalkan kendaraan pribadinya dan beralih kepada penggunaan kendaraan massal dan kendaraan alternatif kemacetan tidak akan terelakan. Pemerintah juga harus turut serta dalam menggalakkan program ini dengan memberikan fasilitas dan teladan kepada masyarakat (red: tidak hanya tunjukin dimuka saja).


MRT jakarta yang baru akan digalakkan pada tahun 2016 pun kalau bisa dibilang masih terlalu lama. Hal tersebut masih empat tahun kedepan dan dari empat tahun kedepan peningkatan masyarakat akan kebutuhan  untuk membeli kendaraan pribadi tidak akan berkurang.

Trotoar yang tersedia di jalan-jalan juga masih terdapat pedagang-pedagan kaki lima yang sebenarnya mengambil hak-hak para pejalan kaki. Tanpa disadari para pedagang kaki lima juga menjadi faktor dalam peningkatan kemacetan secara tidak langsung. Tapi bukan berarti pedagang kaki lima menjadi kambing hitam dalam menghadapi persoalan kurangnya akses pejalan kaki, melainkan karena kurangnya kesadaran masyarakat akan berjalan kaki dan lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi untuk menuju suatu tempat tujuan yang mana jarak yang ditempuh sebenarnya masih dapat dilakukan dengan berjalan kaki. Hal tersebut kemudian menyebabkan lahan aksse untuk pejalan kaki menjada kosong (red: jarang digunakan) yang kemudian menjadi lahan yang potensial untuk digunakan oleh para pedagang kaki lima untuk berjualan.

Penyelesaian masalah dalam menghindari kemacetan bukan berarti dengan menambahkan/membuka lahan jalan baru, melainkan dengan mengurangi akses jalan untuk kendaraan pribadi dan menambahkan fasilitas akses untuk para pejalan kaki, kendaraan alternatif (non-BBM) dan fasilitas kendaraan transportasi massal. Karena dengan diadakan seperti itu masyarakat akan secara terpaksa untuk mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi.

Jadi, mari kita galakkan bersepeda dan penggunaan transportasi massal yang ada untuk mengurangi kemacetan!

Let's Live in a Green Way!
Previous
Next Post »