Perencanaan Struktur Beton (Pelat Lantai 2 Arah) - Part. 5

Suatu pelat dapat dikatakan dua arah jikalau rasio antara sisi terpendek pelat (Lx) dengan sisi terpanjang pelat (Ly) lebih besar dari 0,5 (red: Lx > 0,5 Ly). Sistem penulangan pada penulangan dua arah meninjau dari momen kritis yang terjadi pada pelat tersebut, namun tidak lupa untuk mengkaji pelat tersebut dari sisi  gesernya. Momen-momen yang ditinjau pun momen tumpuan arah x dan y, momen lapangan arah x dan y; dan momen tumpuan akibat jepit tak terduga arah x dan y.

Momen jepit tak terduga (Mtix) diasumsikan setengah momen lapangan di panel yang berbatasan, maka:
Pada arah X = Mtix = 0,5 Mlx (momen lapangan arah x)
Pada arah Y = Mtiy = 0,5 Mly (momen lapangan arah y)



Untuk mengetahui nilai-nilai momen yang terjadi dapat menggunakan koefisien momen-momen dari PBI 1971 klik disini.

Tebal minimum yang disyaratkan dari SNI 03-2847-2002 untuk pelat dua arah adalah:


1. Untuk kondisi 1:










2. Untuk Kondisi 2:












3. Untuk Kondisi 3:



(* untuk kondisi 3 ini pelat dapat diasumsikan sebagai pelat satu arah, untuk perhitungannya dapat dilihat pada postingan berikut)



Nilai a(alpha) m sendiri diperoleh dari rasio kekakuan balok dan pelat:












Proses perhitungan tulangan pada pelat dua arah sama seperti perhitungan tulangan pada postingan ini:


Hanya saja pada tulangan pelat dua arah tidak menggunakan sistem tulangan pembagi, karena tulangan pada arah pembagi menggunakan momen yang terjadi pada pelat tersebut.

Adapun artikel lainnya yang membahas mengenai perencanaan struktur beton:
1. Perencanaan Struktur Beton - Part.1
2. Perencanaan Struktur Beton- Desain Pelat Lantai 1 Arah
3. Contoh Soal Desain Pelat 1 Arah
4. Perbedaan Pelat 1 Arah dan 2 Arah
5. Perencanaan Pelat Lantai 2 Arah
Previous
Next Post »