Mengenal Gempa Bumi dan Tsunami


Source : doddys.files.wordpress.com
Gempa bumi saat ini menjadi sangat familiar untuk para engineer di Indonesia. Besarnya intensitas dan kualitas dari gempa tersebut yang kemudian seluruh civil engineer terutama, harus selalu memberikan perhatian yang lebih kepada gempa bumi. Tidak sedikit masyarakat yang ketika terjadi gempa berskala besar langsung mengasumsikan juga bahwa dalam waktu dekat setelah gempa terjadi akan muncul gemlombang laut tinggi yang sering disebut tsunami. Terutama setelah gempa Aceh pada 26 Desember 2004 lau. Sebenarnya apa sih penyebab terjadinya gempa bumi dan apa sih penyebab dan ciri-ciri bahwa akan terjadi tsunami?


Penyebab terjadinya gempa bumi sendiri gempa bumi ada lima, yaitu: Pertama karena pergerakan magma dalam gunung berapi yang aktif dan biasa disebut gempa vulkanik. Kedua karena pergeseran lempeng-lempeng bumi yang bergerak saling bertabrakan, bergeser atau menjauh dan gempa tektonik ini yang sering terjadi dan menghasilkan gempa dengan skala ritcher yang cukup besar (gempa tektonik). Ketiga karena menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam. Contoh kasusnya adalah Dam Karibia di Zambia, Afrika. Keempat karena injeksi atau akstraksi cairan dari dan ke dalam bumi. Contoh kasusnya biasanya terjadi pada beberapa pembangkit tenaga listrik panas bumi. Kelima, disebabkan oleh bahan peledak atau disebabkan oleh manusia (seismitas terinduksi).

Umumnya di Indonesia sendiri gempa pada dua tipe pertamalah yang banyak terjadi yaitu akibat pergerakan lempeng bumi (tektonik) dan gempa akibat aktifnya gunung berapi. Namun penyebab gempa bumi yang paling sering adalah karena pergeseran lempengan bumi (Tektonik). Gempa tektonik terjadi karena gerakan dari berbagai lempengan bumi baik besar maupun kecil yang membentuk kerak bumi. Lapisan kerak bumi yang keras menjadi genting (lunak) dan akhirnya bergerak. Teori dari “Tektonik Plate” menjelaskan, bumi terdiri atas beberapa lapisan batuan. Sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan tersebut begerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Hampir sebagian besar gempa tektonik terjadi di perbatasan antara lempengan-lempengan pembentuk kerak bumi tersebut, seperti di lingkaran Pasifik.  Kegiatan zone subduksi atau area tumbukan lempeng memegang peranan hampir 50 persen dari peristiwa seismik yang terjadi. Kegiatan zone subduksi ini terkonsentrasi di daerah yang dinamakan lingkaran api (ring of fire), sebuah pita sempit yang panjangnya sekitar 38.600 km. Panjang pita ini membentang dari Selandia Baru-Indonesia-Jepang-hingga Amerika Selatan.

Pada gempa Bengkulu sudut penunjamannya landai. Jadi untuk menimbulkan tsunami butuh energi yang lebih besar. Titik pusatnya hanya 10 km di bawah permukaan laut, sehingga belum mencapai lantai samudera.

Source : nak4michi.blogspot.com
Tsunami sendiri merupakan istilah dalam bahasa Jepang. Menyatakan suatu gelombang laut yang terjadi akibat gempa bumi tektonik di dasar laut. Magnitudo Tsunami yang terjadi di Indonesia berkisar antara 1,5-4,5 skala Imamura, dengan tinggi gelombang Tsunami maksimum yang mencapai pantai berkisar antara 4 - 24 meter dan jangkauan gelombang ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai. Tsunami terbesar sepanjang sejarah Indonesia sendiri yaitu saat 26 Desember 2004 lalu. Peristiwa tersebut yang telah  menewaskan 220 ribu jiwa yang menghuni sepanjang pesisir Samudera Hindia ini menimbulkan trauma dunia yang sangat dalam. Mengapa gempa berkekuatan 9,3 skala richter ini diikuti tsunami sedangkan gempa 12 September 2007 di Bengkulu kemarin tidak? Padahal pusat gempa sama-sama di laut dan kedalamannya dangkal. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan ketajaman tumbukan

Berdasarkan Katalog gempa (1629 - 2002) di Indonesia pernah terjadi Tsunami sebanyak 109 kali , yakni 1 kali akibat longsoran (landslide), 9 kali akibat gunung berapi dan 98 kali akibat gempa bumi tektonik. 

Ciri-ciri bahwa akan terjadinya tsunami sendiri biasanya terjadi dalam rentang 3-60 menit setelah gempa. Ditandai dengan surutnya air laut secara mendadak dan tidak terduga, terbangnya puluhan bahkan mungkin ratusan burung-burung laut ke arah daratan. Selain itu juga akan tercium bau garam. 

Tidak semua gempa tektonik di dasar laut menyebabkan tsunami. Banyak faktor yang dijadikan acuan untuk mengetahui penyebab. Seperti kekuatan dan kedalaman pusat gempa. Karena itu bila dalam rentang waktu satu jam setelah gempa, kamu tak melihat tanda-tanda seperti di atas, yakinlah bahwa kita masih selamat dan tidak ada tsunami. Jadi jangan karena gempa besar terjadi dan banyak massa yang mengumandangkan bahwa akan terjadi tsunami, kemudian kita ikut terhasut. Cobalah untuk terus memantau berita yang ada lewat radio, karena saat gempa terjadi sumber berita yang biusa didapat hanya melalui radio. Untuk mengetahui bagaimana PERENCANAAN DALAM MEMBERIKAN BEBAN GEMPA dapat dilihat pada arikelnya langsung. Sekian, semoga memberikan inspirasi. 

Salam Green Engineer.

Previous
Next Post »